SELAMAT BERGABUNG DENGAN BLOG PENGAWAS DAN GURU PROFESIONAL

SELAMAT BERGABUNG DENGAN BLOG KAMI,SEMOGA BERMANFAAT

Senin, 26 Desember 2011

Gejala Psikis pada manusia Normal


GEJALA PSIKIS PADA MANUSIA NORMAL

Keberhasilan pendidik dalam melaksanakan berbagai peranannya antara lain akan dipengaruhi oleh pemahamannya tentang perkembangan peserta didik. Oleh karena itu agar sukses dalam mendidik, kita perlu memahami perkembangan, sebab hal ini membantu kita dalam memahami tingkah laku. Tingkah laku siswa sendiri dipelajari dalam suatu ilmu yang disebut sebagai psikologi. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia.
Sumbangan Psikologi terhadap pendidikan, Subjek dan objek pendidikan adalah manusia (individu) psikologi memberikan wawasan bagaimana memahami perilaku individu dalam proses pendidikan dan bagaimana membantu individu agar dapat berkembang secara optimal serta mengatasi permasalahan yang timbul dalam diri individu (siswa) terutama masalah belajar yang dalam hal ini adalah masalah dari segi pemahan dan keterbatasan pembelajaran yang dialami oleh siswa. Psikologi dibutuhkan di berbagai ilmu pengetahuan untuk mengerti dan memahami kejiwaan seseorang.  Psikologi juga merupakan suatu disiplin ilmu berobyek formal perilaku manusia, yang berkembang pesat sesuai dengan perkembangan perilaku manusia dalam berbagai latar.
Belajar dengan cara menyenangkan bagi siswa, kurang mendapatkan perhatian para pendidik. Sebagian besar guru mengajar dengan metode ceramah dan “menjejali” anak dengan materi pelajaran untuk mengejar target kurikulum. Akibatnya hasil pembelajaran kurang signifikan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan sesuai kurikulum. Sebaiknya para tenaga pendidik mulai berbenah diri agar beberapa kompetensi guru profesional dimiliki sehingga akan berpengaruh terhadap peningkatan mutu pembelajaran.
Di zaman kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi sekarang ini, para ahli berusaha untuk meningkatkan mengajar itu menjadi suatu ilmu atau science. Dengan metode mengajar yang ilmiah, diharapkan proses belajar mengajar itu lebih terjamin keberhasilannya. Inilah yang sedang diusahakan oleh teknologi pendidikan. Sebuah obsesi bahwa pada suatu saat, mengajar atau mendidik itu menjadi suatu teknologi yang dapat dikenal dan dikuasai langkah-langkahnya.
Teknologi pendidikan keberadaanya sudah cukup lama, yaitu di era pertengahan 1970-an. Namun sekarang masih banyak tenaga pendidik yang kurang begitu memahami apalagi menerapkannya dalam dunia pendidikan. Bahkan tidak dapat dipungkiri, masih banyak orang yang memiliki persepsi yang keliru terhadap disiplin ini. Mereka beranggapan bahwa teknologi pendidikan hanya mengenai televisi, computer atau penggantian peran guru oleh seperangkat teknologi di kelas.
Teknologi pendidikan memberikan pendekatan yang sistematis dan kritis tentang proses belajar mengajar. Teknologi pendidikan memandangnya sebagai suatu masalah yang harus dihadapi secara rasional dengan menerapkan metode pemecahan masalah. Di samping itu perkembangan teknologi pendidikan didukung oleh perkembangan yang pesat dalam media komunikasi seperti radio, televisi, video, CCTV, computer, internet dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan bagi tujuan instruksional. Dengan mempelajari teknologi pendidikan, guru akan memilki pegangan yang lebih mantap dan pedoman yang lebih dapat dipercaya untuk memberi pengajaran yang efektif. Sikap ilmiah terhadap proses belajar mengajar akan memberi sikap yang lebih kritis terhadap cara mengajar dan mendorong untuk mencari cara yang lebih menjamin keberhasilannya. Dengan mendalami teknologi pendidikan, guru dapat meningkatkan profesinya sebagai guru dan meningkatkan keguruan menjadi suatu profesi dalam arti yang sebenarnya. Setelah mendalami diharapkan guru mampu menerapkannya dalam pembelajaran karena memiliki nilai yang sangat penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.
Konsep dan prinsip teknologi pembelajaran sendiri dikembangkan dan diperkaya oleh ahli-ahli bidang Psikologi, seperti Bruner (1966), dan Gagne (1974), ahli Cybernetic seperti Landa (1976), dan Pask (1976), serta praktisi seperti Gilbert (1969), dan Horn (1969), serta lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki ketertarikan atas pengembangan program pembelajaran. Walaupun teknologi pembelajaran termasuk masih prematur, akan tetapi usaha pengembangannya terus dilakukan secara kreatif dan teliti sehingga mampu memecahkan permasalahan yang muncul dalam pembelajaran, sampai kepada hal-hal mikro dalam tahapan tingkahlaku belajar peserta didik.

Pengertian Manusia Normal
Dalam kehidupan nyata pada dasarnya manusia  menyadari bahwa perilakunya akan menimbulkan akibat.  Dibandingkan makhluk lain manusia mampu berfikir dan meningkatkan sifat adaptif dengan cara-cara yang masuk akal. Maka, Manusia normal merupaka  manusia yang memiliki kesadaran diri, merenungkan masa lalu, masa depan, kehidupan, kematian serta manusia yang memiliki rasa moral, dalam artian manusia adalah makhluk yang beretika. Manusia adalah makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. (GG.Simpson).
     
Pembagian kelompok dan gejala gejala kejiwaan manuisa normal
      Pada tiap individu manusia yang normal pada umumnya memiliki gejala-gejala kejiwaan atau pernyataan-pernyataan jiwa yang secara garis besarnya dalam psikologi umum dibagi menjadi 4, diantaranya :
a.   Gejala pengenalan (kognisi)
yang termasuk kegiatan psikis pengenalan/kognisi ini adalah gejala-gejala jiwa seperti: pengamatan, tanggapan, ingatan, assosiasi, fantasi, berpikir, dan intelligensi.
b.   Gejala jiwa perasaan (emosi)
Bigot dkk membagi gejala jiwa perasan ini menjadi 2 yaitu:
1.   perasaan rendah/jasmaniah yaitu perasaan pengindraan & perasaan vital
2.   Perasaan luhur/rohaniah (perasaan keindahan, sosial, kesusilaan, ketuhanan, diri dan intelektual).
c.   Gejala jiwa kehendak (konasi), ada dua macam gejala jiwa kehendak yaitu:
1.   gejala kehendak yang indriah seperti tropisme, refleks, instink, automatisme, nafsu, kebiasaan, keinginaan, dan kecendrungan. Gejala kehendak ini tidak dipengaruhi akal pikiran.
2.   gejala kehendak rohaniah (kemauan).
d.   Gejala campuran, diantarnya ialah minat dan perhatian, kelelahan dan sugesti.
Gejala gejala ini ditujukan untuk memudahkan orang dalam mempelajari gejala gejala kejiwaan pada manusia yang normal, karena setiap individu manusia yang normal dan berbudaya dimanapun berada pada dirinya terdapat ke-4 jenis gejala gejala kejiwaan tersebut. 

 Sumber :
Ahmadi, Abu dan Supriyono Widodo. 1990. Psikologi Belajar (Jakarta:Rineka Cipta).
Abror, Rachman.1993. Psikologi Pendidikan (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar