SELAMAT BERGABUNG DENGAN BLOG PENGAWAS DAN GURU PROFESIONAL

SELAMAT BERGABUNG DENGAN BLOG KAMI,SEMOGA BERMANFAAT

Senin, 26 Desember 2011

Pemberian Penghargaan/Ganjaran/ Hadiah


PEMBERIAN PENGHARGAAN GANJARAN/PUJIAN

A.    PENGERTIAN
1. Ganjaran adalah alat pendidikan represif yang menyenangkan. Atau dikatakan juga, bahwa ganjaran adalah penilaian yang bersifat positif terhadap belajarnya murid (Amin Danien Indrakusuma, 1973:159);
2. Istilah tsawab (ËóÜæóÇÈñ) = ganjaran, didapatkan dalam Al Qur'an dalam menunjukkan apa yang diperbuat oleh seseorang dalam kehidupan ini atau akhirat kelak karena amal perbuatannya yang baik.

Allah berfirman dalam Al Qur'an Surah Ali Imran (3) ayat 148:
Maka Allah berikan ganjaran kepada mereka di dunia dan di akhirat dengan ganjaran yang baik. Dan ALlah cinta kepada orang-orang yang berbuat baik.
Ganjaran merupakan penilaian yang bersifat positif terhadap belajar murid (Amin Danien Indrakusuma, 1973:159); pada umumnya ganjaran/pujian merupakan motivator yang jauh lebih berkhasiat dari pada celaan, hukuman atau ujian ulangan (H. Balnadi Sutadipura, 1982:132). Pada umunya jiwa anak melihat bahwa pujian guru itu sebagai sumber mendapatkan kepuasan, maka tindakan guru itu akan menjadi pendorong untuk terjadinya tingkah laku (Samuel Soeitoe, 1982:36). Pujian dapat dilakukan dengan memperteguh respon yang baru dengan mengasosiasikan pada stimulus tertentu secara berkali-kali,
Skinner menyebutkan hal ini dengan reinforcement (peneguhan), misalnya bila setiap anak menyebut kata yang sopan kita segera memujinya, kelak anak itu akan mencintai kata-kata yang sopan dalam komuikasinya, atau pada waktu mahasiswa membuat prestasi yang baik kita menghargainya dengan sebuah buku yang bagus, maka mahasiswa akan meningkatkan prestasinya. (Jalaluddin Rahmat, 1994:24)

B.     SYARAT-SYARAT MEMBERIKAN GANJARAN

Ag. Soejono (1980:163) mengemukakan beberapa petunjuk dalam memberikan penghargaan, yaitu:
1. Penghargaan dari pihak pendidik wajib makin berkurang dengan makin majunya perkembangan anak didik. Akhirnya, wajib dicapai tingkatan anak didik memperoleh penghargaan dari dirinya sendiri sesudah melaksanakan perbuatan yang luhur, yaitu kepuasan hati. Perlu diketahui, bahwa tingkatan perkembangan setinggi itu hanya dapat dicapai oleh pendidikan diri yang terus menerus, sehingga anak didik dalam masa dewasanya memandang bahwa berbuat luhur adalah tugas hidupnya;
2. Pengargaan wajib diberikan secara adil, tanpa membedakan anak didik, asal padanya ada kerajinan, kesungguhan dan ketekunan berusaha. Ketidak adilan dalam pemberian penghargaan dapat menimbulkan perpecahan dalam lingkungan pendidikan;
3. Penghargaan wajib diberikan sesuai dengan sifat dan watak anak didik. Anak didik yang memerlukannya, diberinya lebih dai pada yang lain. Misalnya pada anak kecil, anak kurang pembawaan lebih banyak diberi dari pada anak yang lebih besar, anak normal dan sebagainya, sebab sifat anak itu lebih memerlukan alat pendorong dari pada anak besar dan anak normal;
4. Penghargaan wajib diberikan dengan bijaksana. Kadang-kadang ada anak yang dengan perbuatan kurang sportif bernafsu besar mendapatkan penghargaan. Pada anak semacam itu sebaiknya tak diberikan penghargaan, biarpun prestasinya baik.
Apabila penghargaan menimbulkan sifat sombong, maka pemberian penghargaan wajib dihentikan;
5. Pada anak didik dalam masa kanak-kanak tidak ada keberatan penghargaan diberikan berupa makanan, gula-gula dan lain sebagainya. Ini sesuai dengan perhatiannya.

C.    MACAM-MACAM PENGHARGAAN
Ganjaran yang kita berikan kepada siswa terdapat beberapa macam ganjaran. Ag. Soejono (1980:161) pada garis besarnya dapat dibedakan ganjaran itu kepada empat macam, yaitu:
1. Pujian
Pujian adalah satu bentuk ganjaran yang paling mudah dilaksanakan. Pujian dapat berupa kata-kata seperti: baik, bagus sekali dan sebagainya, tetapi dapat juga berupa kata-kata yang bersifat sugestif. Di samping berupa kata-kata, pujian dapat pula berupa isyarat-isyarat atau pertanda-pertanda. Misalnya dengan menunjukkan ibu jari (jempol), dengan menepuk bahu anak, dengan tepuk tangan dan sebagainya;
2. Penghormatan
Ganjaran berupa penghormatan dapat berbentuk dua macam, yaitu: Pertama, berbentuk semacam penobatan, yaitu anak yang mendapat penghormatan diumumkan dan ditampilkan di hadapan teman-temannya, dapat juga di hadapan teman-temannya sekelas, teman-teman sesekolah, atau mungkin juga di hadapan para teman dan para orang tua murid; Kedua, penghormatan berbentuk pemberian kekuasaan untuk melakukan sesuatu, misalnya kepada anak yang berhasil menyelesaikan suatu soal yang sulit, disuruh mengerjakannya di papan tulis untuk dicontoh teman-temannya. Anak yang rajin diserahi wewenang/tugas untuk mengurusi perpustakaan sekolah. Anak-anak yang senang bekerja diberi tugas untuk membantu guru memelihara alat-alat pelajaran, dan sebagainya;
3. Hadiah
Yang dimaksud dengan hadiah di sini adalah ganjaran yang berbentuk pemberian berupa barang. Ganjaran berbentuk ini disebut juga ganjaran materiil. Ganjaran berupa pemberian barang ini sering mendatangkan pengaruh yang negatif pada belajar murid, yakni bahwa hadiah ini lalu menjadi tujuan dari belajar anak. Anak belajar bukan karena ingin menambah pengetahuan, tetapi belajar karena ingin mendapatkan hadiah. Apabila tujuan untuk mendapatkan hadiah ini tidak bisa tercapai, maka anak akan mundur belajarnya. Oleh karena itu, pemberian hadiah berupa barang ini lebih baik jangan sering dilakukan. Berikan hadiah berupa barang jika dianggap memang perlu, dan pilihlah pada saat yang tepat;
4. Tanda Penghargaan
Jika hadiah merupakan ganjaran berupa barang, maka tanda penghargaan adalah kebalikannya. Tanda penghargaan tidak dinilai dari segi harga dan kegunaan barang-barang tersebut seperti halnya hadiah, melainkan tanda penghargaan dinilai dari segi "kesan" atau "nilai kenangannya". Oleh karena itu, ganjaran berupa tanda penghargaan disebut juga ganjaran symbolis. Ganjaran symbolis dapat berupa surat-surat tanda penghargaan, surat tanda jasa, sertifikat, piala dan sebagainya. Tanda penghargaan yang diperoleh anak akan merupakan sumber pendorong bagi prkembangan anak selanjutnya.
Bentuk penghargaan lainnya sebagaimana diungkapkan oleh Ag. Soejono (1980:161) adalah sebagai berikut:
1). Isyarat, misalnya anggukan, raut muka, senyum dari pendidik dan sebagainya;
2). Perkataan, misalnya: rajin engkau !;; baik, teruskan, dan sebagainya;
3). Perbuatan, misalnya anak didik diperbolehkan mengatur meja, almari pendidik dan sebagainya;
4). Benda, penghargaan dalam bentuk benda wajib sederhana sekali, misalnya gambar, pensil, buku tulis, buku bacaan, buku keagamaan, alat permainan dan sebagainya.

D.    NILAI PENGHARGAAN
Penghargaan pendidik terhadap anak didik mempunyai nilai pendidikan. Sg. Soejono (1980:162) menyatakan sebagai beikut:
1. Dari hal yang menyebabkan anak didik memperoleh penghargaan, anak didik mengetahui norma-norma kehidupan yang baik;
2. Penghargaan memupuk rasa suka pada perbuatan atau norma yang baik dan memperbesar semangat berbuat luhur, lebih-lebih kalau penghargaan berasal dari pendidik yang dihormati dan disayangi anak didik;
3. Penghargaan yang akan diterima menolong kata hati anak didik menjatuhkan pilihannya pada motif yang tepat pada waktu anak didik mengalami perjuangan motif;
4. Di dalam pendidikan sosial rumah tangga, di sekolah maupun di dalam masyarakat pemberian penghargaan menimbulkan suasana gembira;
5. Penghargaan memperkeras kemauan anak didik melaksanakan perbuatan luhur yang telah ia pilih;
6. Penghargaan mempertinggi prestasi perbuatan anak didik dan rombongan sosialnya. 

Sumber : 
Abdullah, A.S. (1990). Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al Qur'an. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Ag. Soejono. (1980). Pendahuluan Ilmu Pendidikan Umum. Bandung: CV. Ilmu. Baharits,A.H.S. (1996). Tanggung Jawab Ayah Terhadap Anak Laki-Laki. Jakrta: Gema Insani Press.
Indrakusuma, A.D. (1973). Pengantar Ilmu Pengetahuan. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Malang.
 J.J. Hasibuan, dkk. (1988). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Karya. ………….. (1992). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rodakarya.
JVS. Tondowidjojo CM. (1991). Kunci Sukses Pendidikna. Yogyakarta: Kanisius. Rahmat, J. (1994). Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosda Karya.
Soeitoe, S. (1982). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sukadipura, B. (1982). Aneka Problema Keguruan. Bandung: Angkasa. Suwarno. (1992). Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakrta: PT. Rineka Cipta.
 Tafsir, A. (1992). Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar